Sabtu, 08 Maret 2014

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

DECISION MAKING



PENDAHULUAN
Pengambilan keputusan dalam penyelesaian masalah  adalah kemampuan mendasar bagi praktisi kesehatan, khususnya dalam asuhan keperawatan dan kebidanan. Tidak hanya berpengaruh pada proses pengelolaan asuhan keperawatan dan kebidanan, tetapi penting untuk meningkatkan kemampuan merencanakan perubahan. Perawat dan bidan pada semua tingkatan posisi klinis harus memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan yang efektif, baik sebagai pelaksana/staf maupun  sebagai pemimpin.
           
Penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan bukan merupakan bentuk sinonim. Pemecahan masalah dan proses pengambilan keputusan membutuhkan pemikiran kritis dan analisis yang dapat ditingkatkan dalam praktek. Pengambilan keputusan merupakan upaya pencapaian tujuan dengan menggunakan proses yang sistematis dalam memilih  alternatif. Tidak semua pengambilan keputusan dimulai dengan situasi masalah.

Pemecahan masalah termasuk dalam langkah proses pengambilan keputusan, yang difokuskan untuk mencoba memecahkan masalah secepatnya. Masalah dapat digambarkan sebagai kesenjangan diantara “apa yang ada dan apa yang seharusnya ada”.  Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang efektif diprediksi bahwa individu harus memiliki kemampuan berfikir kritis dan mengembangkan dirinya dengan adanya bimbingan dan role model di lingkungan kerjanya.

PENGERTIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah dengan pengumpulan fakta-fakta dan data, menentukan alternatif yang matang untuk mengambil suatu tindakan yang tepat.
Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan :
  1. Dalam proses pengambilan keputusan tidak terjadi secara kebetulan.
  2. Pengambilan keputusan tidak dilakukan secara sembrono tapi harus berdasarkan pada sistematika tertentu :
    1. Tersedianya sumber-sumber untuk melaksanakan keputusan yang akan diambil.
    2. Kualifikasi tenaga kerja yang tersedia
    3. Falsafah yang dianut organisasi.
    4. Situasi lingkungan internal dan eksternal yang akan mempengaruhi administrasi dan manajemen di dalam organisasi.
  3. Masalah harus diketahui dengan jelas.
  4. Pemecahan masalah harus didasarkan pada fakta-fakta yang terkumpul dengan sistematis.
  5. Keputusan yang baik adalah keputusan yang telah dipilih dari berbagai alternatif yang telah dianalisa secara matang.

Apabila pengambilan keputusan tidak didasarkan pada kelima hal diatas, akan menimbulkan berbagai masalah :
    1. Tidak tepatnya keputusan.
    2. Tidak terlaksananya keputusan karena tidak sesuai dengan kemampuan organisasi baik dari segi manusia, uang maupun material.
    3. Ketidakmampuan pelaksana untuk bekerja karena tidak ada sinkronisasi antara kepentingan organisasi dengan orang-orang di dalam organisasi tersebut.
    4. Timbulnya penolakan terhadap keputusan.

Sikap atau watak berfikir kritis dapat ditingkatkan dengan memantapkan secara positif dan  memotivasi lingkungan kerja.  Kreativitas penting untuk membangkitkan  motivasi secara individu sehingga mampu memberikan konsep baru dengan pendekatan inovatif dalam memecahkan masalah atau isu secara fleksibel dan bebas berpikir. Keterbukaan menerima kritik akan mengakibatkan hal positif seperti; semakin terjaminnya kemampuan analisa seseorang terhadap fakta dan data yang dihadapi dan akan meningkatkan kemampuan untuk mengatasi kelemahan.
 Sebelum memecahkan masalah, manajer perlu mengajukan pertanyaan kunci sebagai berikut :
1.      Apakah hal ini penting ?
2.      Apakah saya ingin mengerjakan sesuatu untuk hal itu ?
3.      Apakah saya cukup handal untuk menangani masalah itu ?
4.      Apakah saya mempunyai kewenangan untuk mengerjakan sesuatu ?
5.      Apakah saya mempunyai pengetahuan, minat, waktu dan sumber yang tepat untuk itu ?
6.      Dapatkah saya mendelegasikan hal tersebut kepada seseorang ?
7.      Apakah ada manfaat yang didapatkan dari penyelesaian masalah tersebut ?
Apabila jawaban pada pertanyaan nomor 1 sampai 5 adalah “tidak”, maka pemecahan masalah tersebut tidak efektif, artinya membuang waktu, sumber dan tenaga secara personal. Tapi sebaliknya bila jawabannya semua “ya”, pengambilan keputusan merupakan  pilihan untuk menerima masalah dan bertanggung jawab.

METODA PEMECAHAN MASALAH
Prinsip utama untuk menetapkan suatu masalah adalah mengetahui fakta, kemudian memisahkan fakta tersebut dan melakukan interpretasi data menjadi fakta objektif dan menentukan luasnya masalah tersebut. Manajer membutuhkan kemampuan untuk menetapkan prioritas pemecahan masalah. Umumnya untuk pemecahan masalah selalu menggunakan metoda coba-coba dan salah, eksperimen, dan atau tidak berbuat apa-apa (“do nothing”). Pembuatan keputusan dapat dipandang sebagai proses yang menjembatani hal yang lalu dan hal yang akan datang pada saat manajer hendak mengadakan suatu perubahan.
Proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan diatas adalah salah satu penyelesaian yang dinamis. Penyebab umum gagalnya penyelesaian masalah adalah kurang tepat mengidentifikasi masalah.  Oleh karena itu identifikasi masalah adalah langkah yang paling penting. Kualitas hasil tergantung pada keakuratan dalam mengidentifikasi masalah.

Identifikasi masalah dipengaruhi oleh informasi yang tersedia, nilai, sikap dan pengalaman  pembuat keputusan serta waktu penyelesaian masalah. Terutama waktu yang cukup untuk mengumpulkan dan mengorganisir data.

Langkah-Langkah Pemecahan Masalah
  1. Mengetahui hakekat dari masalah dengan mendefinisikan masalah yang dihadapi.
  2. Mengumpulkan fakta-fakta dan data yang relevan.
  3. Mengolah fakta dan data.
  4. Menentukan beberapa alternatif pemecahan masalah.
  5. Memilih cara pemecahan dari alternatif yang dipilih.
  6. Memutuskan tindakan yang akan diambil.
  7. Evaluasi.
*      Mendefinisikan Masalah
Untuk mengetahui hakekat suatu masalah tidaklah mudah, karena masalah yang sebenarnya dihadapi sering terselubung dan tidak terlihat jelas. Oleh karena itu diperlukan keahlian, pendidikan dan pengalaman untuk membuat diagnosa yang tepat. Untuk itu  manajer perawat dan bidan agar selalu mengembangkan kemampuannya dan belajar dari pengalaman di masa lalu untuk mempelajari perubahan yang terjadi.
*      Pengumpulan Data
Pengumpulan data atau informasi dikerjakan secara berkesinambungan melalui proses yang sistematis, sehingga upaya untuk mengantisipasi keadaan/masalah yang mungkin timbul akan lebih mudah dilaksanakan seperti ;
    1. Apakah masalah yang dihadapi diketahui dengan jelas?
    2. Apakah keadaan yang dihadapi merupakan masalah sebenarnya?
    3. Apakah sistem pelaporan di dalam organisasi sudah memungkinkan untuk prediksi secara tepat?

*      Analisa Fakta dan Data
Fakta-fakta dan data yang telah terkumpul dengan baik diolah secara sistematis yang akhirnya akan merupakan suatu informasi yang akan digunakan sebagai bahan untuk pengambilan keputusan. Analisa fakta dan data perlu dihubungkan dengan serangkaian pertanyaan sebagai berikut :
  1. Situasi yang bagaimanakah yang menimbulkan masalah?
  2. Apa latar belakang dari masalah?
  3. Apa pengaruh dan hubungan antara masalah yang dihadapi dengan tujuan, rencana dan kebijakan organisasi?
  4. Apa konsekuensi atas keputusan yang diambil?
  5. Apakah pemecahan masalah sesuai dengan kapasitas organisasi?
  6. Apakah waktu pengambilan tepat?
  7. Siapa yang akan ditugaskan mengambil tindakan?
*      Penentuan Alternatif
Baik buruknya sesuatu keputusan yang diambil sangat tergantung atas kemampuan menganalisa kekuatan dan kelemahan  alternatif-alternatif yang dihadapi. Dalam usaha menganalisa alternatif yang ada seseorang perlu memperhitungkan :
1.      Siapa yang terlibat/dipengaruhi setiap alternatif ?
2.      Tindakan apa yang diperlukan ?
3.      Reaksi apa yang mungkin timbul ?
4.      Dimana sumber reaksi tersebut ?
5.      Interaksi apa yang diperlukan ?
*      Penentuan Pilihan yang Terbaik
Pada setiap pengambilan keputusan selalu disertai dengan pengambilan resiko. Pada umumnya pilihan diambil dari beberapa alternatif jika diduga bahwa pilihan itu akan memberikan manfaat yang paling besar baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Namun demkian perlu dipertimbang juga bahwa resiko yang menyertai bersifat moderat.
*      Evaluasi
Untuk mengadakan penilaian yang baik, diperlukan obyektivitas dalam melakukan penilaian atau evaluasi. Biasanya suatu hal yang sangat sukar bagi seseorang untuk menilai dirinya sendiri secara obyektif. Oleh karena itu pelaksanaan penilaian dapat diserahkan kepada pihak ketiga yang tidak terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memperoleh tingkat obyektivitas setinggi mungkin. Untuk proses evaluasi perlu diperhatikan mengenai tempat dan siapa yang bertanggung jawab  serta kapan hal tersebut dilaksanakan, contoh; sebelumnya manajer menetapkan suatu kebijakan baru dalam merespon keluhan pengunjung. Untuk menjamin bahwa kegiatan itu efektif perlu kerja sama dengan semua staf terkait. Kemudian bagaimana penemuan itu akan dikomunikasikan kepada personal lainnya.

 

FORMAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Langkah utama proses pengambilan keputusan adalah sama dengan proses pemecahan masalah. Fase ini termasuk mendefinisikan tujuan, memunculkan pilihan, mengidentifikasi keuntungan dan kerugian masing-masing pilihan, memprioritaskan pilihan, menseleksi pilihan yang paling baik untuk menilai sebelum mendefinisikan tujuan, implementasi dan evaluasi.

GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Gaya pengambilan keputusan manajer perawat/bidan umumnya sama dengan gaya kepemimpinan yang digunakan oleh manajer tersebut diatas. Ada 7 variabel yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan untuk menyeleksi gaya yang paling cocok, yaitu :
1.      Pentingnya kualitas keputusan untuk keberhasilan institusi.
2.      Derajat informasi yang dimiliki oleh manajer.
3.      Derajat pada masalah yang terstruktur dalam organisasi.
4.      Pentingnya komitmen bawahan dan keterampilan membuat keputusan.
5.      Kemungkinan keputusan autokratik dapat diterima.
6.      Komitmen bawahan yang kuat terhadap tujuan institusi.
7.      Kemungkinan bawahan konflik dalam proses akhir pada keputusan final.

Metode autokratik hasilnya lebih cepat dalam pengambilan keputusan dan cocok untuk situasi yang krisis atau ketika kelompok senang menerima tipe ini sebagai gaya keputusan. Bagaimanapun anggota staf umumnya lebih mendukung untuk pendekatan konsultatif dan kelompok. Konflik dapat terjadi ketika masalah tidak terstruktur dibahas atau jika manajer tidak mempunyai pengetahuan atau ketrampilan dalam proses pemecahan masalah.


FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH PADA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Banyak faktor yang berpengaruh kepada individu dan kelompok dalam pengambilan keputusan, antara lain:
1.      Faktor Internal
Faktor internal dari diri manajer sangat mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Faktor internal tersebut meliputi: keadaan emosional dan fisik, personal karakteristik, kultural, sosial, latar belakang filosofi, pengalaman masa lalu, minat, pengetahuan dan sikap pengambilan keputusan yang dimiliki.
2.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal termasuk kondisi dan lingkungan waktu. Suatu nilai yang berpengaruh pada semua aspek dalam pengambilan keputusan adalah pernyataan masalah, bagaimana evaluasi itu dapat dilaksanakan. Nilai ditentukan oleh salah satu kultural, sosial, latar belakang, filosofi, sosial dan kultural.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELOMPOK
Ada dua kriteria utama untuk pengambilan keputusan yang efektif:
  1. Keputusan harus berkualitas tinggi dan dapat mencapai tujuan atau sasaran yang sebelumnya telah didefinisikan.
  2. Keputusan harus diterima oleh orang yang bertanggungjawab melaksanakannya. Contoh;  Rapat merupakan salah satu  alat terpenting untuk mencapai informasi dan mengambil keputusan. Ada keuntungan-keuntungan tertentu yang dapat dipetik melalui suatu rapat,  yaitu :
    1. Masalah yang timbul menjadi jelas sifatnya karena dibicarakan dalam forum terbuka.
    2. Interaksi kelompok akan menghasilkan pendapat dan buah pikiran serta pengertian yang mendalam.
    3. Penerimaan dan pelaksanaan keputusan diambil oleh peserta rapat.
    4. Rapat melatih menerima pendapat orang lain.
    5. Melalui rapat peserta dilatih belajar tentang pemikiran orang lain dan belajar menempatkan diri pada posisi orang lain.
Langkah utama proses pengambilan keputusan adalah sama dengan proses pemecahan masalah. Fase ini termasuk mendefinisikan tujuan, memunculkan pilihan, mengidentifikasi keuntungan dan kerugian masing-masing pilihan, memprioritaskan pilihan, menyeleksi pilihan yang paling baik untuk menilai sebelum mendefinisikan tujuan, implementasi dan evaluasi.


KESIMPULAN
Seorang manajer keperawatan/kebidanan harus mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab atas akibat dari resiko yang timbul sebagai konsekuensi  dari keputusan yang telah diambilnya. Pada hakekatnya, pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah yang difokuskan untuk memecahkan masalah secepatnya dimana individu harus memiliki kemampuan berfikir kritis dengan menggunakan pendidikan dan pengalaman yang berharga yang cukup efektif dalam pemecahan masalah.

EVALUASI

  1. Sebutkan pengertian tentang “Pengambilan Keputusan”.
  2. Jelaskan lima hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan secara sederhana (simpel).
  3. Jelaskan secara singkat proses pengambilan keputusan  dalam menghadapi suatu masalah.
  4. Apabila muncul satu masalah ditempat kerja saudara, sebagai seorang manajer perawat/bidan, langkah-langkah apa saja yang harus saudara putuskan.

Sabtu, 15 Februari 2014

TANGGUNG JAWAB DAN AKUNTABILITAS

TANGGUNG JAWAB 
DAN AKUNTABILITAS


PENDAHULUAN
            Tanggung jawab dan akuntabilitas sangat penting dalam menentukan mutu kinerja perawat dan bidan. Hal ini membutuhkan proses mental untuk menjadikan Perawat dan Bidan bekerja secara profesional. Perawat dan bidan harus waspada serta meningkatkan kinerjanya mengingat tanggung jawab dan akuntabilitas berhubungan dengan kegiatan atau tindakan mereka. Mereka perlu memonitor dan mengevaluasi semua hasil pekerjaan yang telah dilakukannya, dan selalu berupaya meningkatkan serta menjaga mutu pelayanannya.
       
PENGERTIAN
¨      Tanggung jawab:  mengarah pada kinerja tindakan dari tugas, mencakup  tindakan para staf dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk kesejahteraan pasen.
¨      Akuntabilitas:  mengarah pada hasil dari tindakan yang dilakukan. Ini berarti menerima hasil kerja atau tindakan serta tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil, serta tindakan, dan catatan  yang dilakukan dalam batas kewenangannya.                                   

KONSEP TANGGUNG JAWAB dan AKUNTABILITAS

Tanggung Jawab
¨      Menempatkan kebutuhan pasen di atas kepentingan sendiri.
¨      Melindungi hak pasen untuk memperoleh keamanan dan pelayanan yang berkualitas dari perawat atau bidan.
¨      Selalu meningkatkan pengetahuan, keahlian serta menjaga perilaku dalam melaksanakan tugasnya.
Akuntabilitas           
¨      Dapat mempertahankan kinerja professional berdasarkan standar yang berlaku.

TANGGUNG JAWAB
Tanggung jawab menunjukkan kewajiban. Ini mengarah kepada kewajiban yang harus dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan secara professional. Manajer dan para staf harus memahami dengan jelas tentang fungsi tugas yang menjadi tanggung jawab masing-masing perawat dan bidan serta hasil yang ingin dicapai dan bagaimana mengukur kualitas kinerja stafnya. Perawat atau bidan yang professional akan bertanggung jawab atas semua bentuk  tindakan klinis keperawatan atau kebidanan yang dilakukan dalam lingkup tugasnya.

Tanggung jawab diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan kinerja yang ditampilkan guna memperoleh hasil pelayanan keperawatan atau kebidanan yang berkualitas tinggi. Yang perlu diperhatikan dari pelaksanaan tanggung jawab adalah memahami secara jelas tentang “uraian tugas dan spesifikasinya” serta dapat dicapai berdasarkan standar yang berlaku atau yang disepakati. Hal ini berarti  perawat atau bidan mempunyai tanggung jawab yang dilandasi oleh komitmen, dimana  mereka harus bekerja sesuai fungsi tugas yang dibebankan kepadanya.

Untuk mempertahankannya, perawat dan bidan hendaknya mampu dan selalu melakukan introspeksi serta arahan pada  dirinya sendiri (self-directed), merencanakan pengembangan diri secara kreatif dan senantiasa berusaha meningkatkan kualitas kinerjanya. Hal ini diperlukan agar mereka dapat mengidentifikasi elemen-elemen kritis untuk meningkatkan dan mengembangkan kinerja klinis mereka, guna memenuhi kepuasan pasen dan dirinya sendiri dalam pekerjaannya.  Mencatat respon dan perkembangan pasen dengan lengkap dan benar merupakan  salah satu tanggung jawab perawat atau bidan dalam melaksanakan tugasnya.

AKUNTABILITAS
Akuntabilitas adalah mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan, dimana “tindakan” yang dilakukan merupakan satu aturan profesional. Oleh karena itu pertanggungjawaban atas hasil asuhan keperawatan atau kebidanan mengarah langsung kepada praktisi itu sendiri. Pada tingkat pelaksana sebagai  perawat atau bidan harus memiliki kewenangan dan otonomi (kemandirian) dalam pengambilan keputusan untuk tindakan yang akan mereka lakukan. Manajer ruangan (KARU) bertanggung jawab atas keputusannya terhadap pelaksanaan tugas-tugasnya, termasuk menyeleksi staf, terutama mengarah pada kemampuan kinerja mereka masing-masing. Selanjutnya, setiap perawat atau bidan sebagai anggota tim bertanggung jawab terhadap penugasan yang dilimpahkan kepadanya. Oleh karena itu, setiap perawat atau bidan harus faham terhadap pertanggungjawaban atas tugas yang dibebankan kepadanya. Kepala ruangan wajib melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dari srafnya. Perawat atau bidan professional harus dapat mempertanggungjawabkan tindakan yang dilakukan dalam pencapaian tujuan asuhan keperawatan atau kebidanan kepada pasen. Kepekaan diperlukan terhadap hasil setiap tindakan yang dilakukannya, karena berhubungan dengan tanggung jawab, pendelegasian,  kewajiban dan kredibilitas profesinya. 
Akuntabilitas profesional mempunyai beberapa tujuan, antara lain: (1) Perawat dan bidan harus mempertanggungjawabkan tindakannya kepada pasien, manajer dan organisasi tempat mereka bekerja. (2) Mereka bertanggungjawab terhadap tindakan yang diambil untuk pasen dan keluarganya, masyarakat dan juga terhadap profesinya. (3) Mengevaluasi praktek profesional dan para stafnya. (4) Menerapkan dan mempertahankan standar yang telah ditetapkan dan yang dikembangkan oleh organisasi. (5) Membina ketrampilan personal staf masing-masing. (6) Memastikan ruang lingkup dalam proses pengambilan keputusan secara jelas.

MEKANISME AKUNTABILITAS

1.      Keperawatan atau Kebidanan Klinis
Kelompok perawat atau bidan bertanggung jawab selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu untuk merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi asuhan keperawatan atau kebidanan untuk sekelompok pasennya. Mereka mempunyai wewenang penting untuk memenuhi tanggung jawabnya. Untuk itu mereka harus memiliki wewenang dalam memenuhi tanggung jawabnya dan harus mampu menerima akuntabilitas untuk pencapaian hasil praktek keperawatan atau kebidanan. Kewenangan yang dimiliki  perawat atau bidan untuk memberikan asuhan keperawatan atau kebidanan diarahkan langsung kepada pasen pada setiap saat dalam pelaksanaan tugas. Praktek klinik keperawatan atau kebidanan merupakan instrument yang sudah biasa dilakukan dan dapat dipergunakan dalam mempromosikan praktek profesionalnya. Seorang manajer dapat mengembangkannya melalui dorongan dan kepercayaan terhadap staf perawat atau bidan, agar mereka semakin memiliki kesadaran, dan kemampuan klinis dalam memberikan pelayanan yang berkualitas tinggi.

2.      Etika Perawat / Bidan
Kerangka konsep dan dimensi moral dari suatu tanggung jawab dan akuntabilitas dalam praktek klinis keperawatan dan kebidanan didasarkan atas prinsip-prinsip etika yang jelas serta diintegrasikan ke dalam pendidikan dan praktek klinis. Hubungan perawat atau bidan dengan pasen dipandang sebagai suatu tanggung jawab dan akuntabilitas terhadap pasien yang pada hakekatnya adalah hubungan memelihara (caring). Elemen dari hubungan ini dan nilai-nilai etiknya  merupakan tantangan yang dikembangkan pada setiap sistem pelayanan kesehatan dengan berfokus pada sumber-sumber yang dimiliki. Perawat atau bidan harus selalu mempertahankan filosofi keperawatan atau kebidanan yang mengandung prinsip-prinsip etik dan moral yang tinggi sebagaimana perilaku memelihara dalam menjalin hubungan dengan pasen dan lingkungannya. Sebagai contoh, ketika seorang perawat/bidan melakukan kesalahan dalam memberikan obat kepada pasen, dia harus secara sportif (gentle) dan rendah hati (humble) berani mengakui kesalahannya. Pada kasus ini dia harus mempertanggungjawabkan kepada: (1) pasen sebagai konsumen, (2) dokter yang mendelegasikan tugas kepadanya, (3) Manajer Ruangan yang menyusun standar atau pedoman praktek yang berhubungan dengan pemberian obat (4) Direktur Rumah Sakit atau Puskesmas yang bertanggung jawab atas semua bentuk pelayanan di lingkungan organisasi tersebut.


1.      Terhadap Diri Sendiri; (a) Tidak dibenarkan setiap personal melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan status kesehatan pasen. (b) Mengikuti praktek keperawatan atau kebidanan berdasarkan standar baru dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi canggih. (c) Mengembangkan opini berdasarkan data dan fakta.

2.      Terhadap Klien atau Pasen; (a) Memberikan informasi yang akurat berhubungan dengan asuhan keperawatan atau kebidanan. (b) Memberikan asuhan keperawatan atau kebidanan berdasarkan standar yang menjamin keselamatan, dan kesehatan pasen.
3.      Terhadap Profesinya; (a). Berusaha mempertahankan, dan memelihara kualitas asuhan keperawatan, atau kebidanan berdasarkan standar, dan etika profesi. (b) Mampu dan mau mengingatkan sejawat perawat/bidan untuk bertindak profesional, dan sesuai etik moral profesi.
4.      Terhadap Institusi/Organisasi;  Mematuhi kebijakan dan peraturan yang berlaku, termasuk pedoman yang disiapkan oleh institusi atau organisasi.
5.      Terhadap Masyarakat;  Menjaga etika dan hubungan interpersonal dalam memberikan pelayanan keperawatan, atau kebidanan yang berkualitas tinggi.

KESIMPULAN
Tanggung jawab dan akuntabilitas memerlukan dasar komitmen yang kuat dalam praktek keperawatan atau kebidanan untuk dapat mengembangkan kemampuannya secara mandiri. Disamping itu diperlukan kemampuan untuk dapat mengarahkan dirinya sendiri, sehingga dapat mengidentifikasikan elemen-elemen kritikal untuk pengembangan atau peningkatan kinerjanya dalam pelaksanaan tugasnya, dalam rangka mempertahankan tercapainya status profesionalnya. Melalui pembelajaran diri secara terus menerus, perawat atau bidan harus senantiasa meningkatkan pengetahuan, kemampuan, serta memelihara perilaku yang etis dan professional untuk  menghasilkan kinerja klinis yang berkualitas tinggi.

Hal tersebut akan tercapai apabila semua fungsi tugas dan kegiatan dilandasi etika dan standar dengan memanfaatkan dan menerapkan mekanisme akuntabilitas untuk memenuhi kepuasan pasen dan kepuasan bekerja.

EVALUASI
  1. Sebutkan pengertian Tanggung Jawab dan Akuntabilitas ?
  2. Berikan perbedaan dan hubungan dari kedua hal tersebut di atas ?
  3. Jelaskan dengan singkat dua hal tentang mekanisme Akuntabilitas ?
  4. Bagaimana mempertahankan Akuntabilitas professional bagi diri sendiri ?
  5. Apa yang perlu dilakukan untuk mempertahankan tangggung jawab dalam meningkatkan kinerja diri sendiri ?


Sabtu, 11 Januari 2014

DISIPLIN KERJA

DISIPLIN KERJA
PENDAHULUAN
Disiplin  sangat  penting  untuk  pertumbuhan organisasi, digunakan terutama  untuk memotivasi  pegawai agar dapat  mendisiplinkan diri   dalam melaksanakan pekerjaan  baik secara  perorangan  maupun kelompok. Disamping itu disiplin  bermanfaat mendidik pegawai  untuk mematuhi dan menyenangi  peraturan, prosedur, maupun kebijakan yang ada, sehingga dapat menghasilkan kinerja yang baik.
Kurang  pengetahuan tentang peraturan,  prosedur,  dan kebijakan yang ada  merupakan  penyebab  terbanyak  tindakan  indisipliner. Salah satu upaya  untuk mengatasi hal tersebut  pihak  pimpinan sebaiknya  memberikan program orientasi  kepada tenaga  perawat/bidan  yang baru pada  hari pertama mereka bekerja, karena  perawat/bidan  tidak dapat diharapkan  bekerja dengan baik dan patuh, apabila  peraturan/prosedur atau kebijakan  yang ada  tidak diketahui, tidak jelas, atau tidak dijalankan  sebagai mestinya.  Selain  memberikan  orientasi,  pimpinan  harus menjelaskan  secara rinci peraturan peraturan yang sering  dilanggar, berikut rasional dan konsekwensinya. Demikian pula  peraturan/prosedur atau kebijakan  yang mengalami perubahan atau diperbaharui, sebaiknya diinformasikan   kepada staf  melalui diskusi aktif.
Tindakan  disipliner  sebaiknya dilakukan, apabila  upaya   pendidikan yang  diberikan telah gagal, karena tidak ada orang yang sempurna. Oleh sebab itu, setiap individu diizinkan untuk melakukan  kesalahan  dan  harus  belajar dari kesalahan tersebut.   Tindakan  indisipliner  sebaiknya dilaksanakan dengan  cara  yang  bijaksana sesuai dengan prinsip dan  prosedur yang  berlaku  menurut tingkat  pelanggaran  dan  klasifikasinya.

PENGERTIAN

§  Disiplin  berasal  dari  akar  kata   “disciple“  yang  berarti  belajar.
Disiplin  merupakan  arahan  untuk melatih  dan membentuk  seseorang   melakukan sesuatu  menjadi lebih  baik.
§  Disiplin adalah  suatu proses yang dapat  menumbuhkan perasaan  seseorang untuk mempertahankan  dan meningkatkan  tujuan  organisasi  secara obyektif, melalui kepatuhannya  menjalankan  peraturan  organisasi. 

Sanksi indisipliner  dilakukan  untuk  mengarahkan  dan memperbaiki  perilaku                          pegawai dan  bukan  untuk  menyakiti.  Tindakan  disipliner  hanya  dilakukan  pada pegawai  yang tidak dapat mendisiplinkan  diri,   menentang/tidak dapat  mematuhi  praturan/prosedur organisasi. Melemahnya  disiplin kerja akan mempengaruhi moral pegawai maupun pelayanan  pasen secara langsung, oleh karena itu  tindakan   koreksi  dan pencegahan  terhadap  melemahnya peraturan   harus segera  diatasi   oleh  semua komponen  yang  terlibat  dalam  organisasi.   

Asumsi  : Tidak ada orang yang  sempurna, oleh sebab itu  setiap  individu  diizinkan  untuk melakukan  kesalahan  dan belajar  dari  kesalahan  tersebut. Tindakan  koreksi  dilakukan  apabila  individu tidak dapat mematuhi  peraturan  sesuai standar minimal atau tidak dapat  meningkatkan  tujuan organisasi.  

 

PRINSIP-PRINSIP  Disiplin

1.     Pemimpin mempunyai  prilaku  positif
Untuk dapat  menjalankan  disiplin  yang  baik  dan benar,  seorang  pemimpin  harus         dapat menjadi  role model/panutan  bagi  bawahannya. Oleh karena  itu  seorang   pimpinan  harus dapat mempertahankan  perilaku yang positif  sesuai  dengan  harapan staf.
2.   Penelitian  yang  Cermat
Dampak  dari tindakan  indisipliner  cukup serius, pimpinan harus memahami akibatnya. Data dikumpulkan  secara faktual, dapatkan informasi  dari  staf yang lain, tanyakan secara  pribadi  rangkaian pelanggaran yang telah  dilakukan, analisa, dan bila perlu  minta pendapat  dari  pimpinan  lainnya.
3.     Kesegeraan  
Pimpinan  harus  peka  terhadap pelanggaran  yang  dilakukan  oleh bawahan sesegera mungkin  dan  harus diatasi  dengan  cara yang bijaksana. Karena,  bila dibiarkan  menjadi kronis, pelaksanaan disiplin yang  akan  ditegakkan  dapat dianggap lemah,   tidak jelas,  dan akan mempengaruhi  hubungan  kerja dalam organisasi  tersebut.
4.     Lindungi  Kerahasiaan  (privacy)
Tindakan indisipliner akan  mempengaruhi  ego staf, oleh karena itu  akan lebih baik apabila permasalahan didiskusikan secara pribadi, pada ruangan  tersendiri dengan suasana yang rileks dan tenang.  Kerahasiaan harus tetap  dijaga karena mungkin dapat mempengaruhi  masa depannya .
5.     Fokus  pada  Masalah. 
Pimpinan  harus  dapat  melakukan  penekanan  pada kesalahan  yang dilakukan bawahan dan bukan pada pribadinya, kemukakan  bahwa  kesalahan yang dilakukan  tidak dapat dibenarkan.
6.     Peraturan   Dijalankan  Secara  Konsisten
Peraturan  dijalankan secara konsisten, tanpa pilih kasih. Setiap  pegawai yang bersalah harus dibina sehingga mereka tidak merasa dihukum dan dapat menerima sanksi yang dilakukan secara wajar.
7.     Fleksibel
Tindakan disipliner  ditetapkan apabila  seluruh  informasi  tentang  pegawai telah di analisa  dan dipertimbangkan. Hal yang menjadi pertimbangan antara lain adalah tingkat kesalahannya,  prestasi pekerjaan yang lalu,  tingkat kemampuannya dan pengaruhnya terhadap organisasi  
8.     Mengandung  Nasihat
Jelaskan secara  bijaksana  bahwa pelanggaran yang dilakukan  tidak dapat diterima. File pegawai  yang berisi  catatan  khusus  dapat digunakan sebagai acuan, sehingga mereka  dapat memahami  kesalahannya.    

9.     Tindakan   Konstruktif
Pimpinan harus yakin  bahwa bawahan  telah  memahami perilakunya bertentangan  dengan tujuan organisasi dan  jelaskan kembali   pentingnya  peraturan  untuk staf maupun organisasi. Upayakan   agar  staf  dapat merubah perilakunya   sehingga  tindakan indisipliner  tidak terulang lagi.
10. Follow Up  (Evaluasi)


TUJUAN  disiplin

Difokuskan   untuk mengoreksi  penampilan kerja agar  peraturan  kerja dapat diberlakukan  secara konsisten. Tidak  bersifat  menghakimi dalam memberlakukan  hukuman  atas  tindakan  indisipliner.


Teguran  Secara  Lisan

            Teguran  secara  lisan  terbatas  dalam  hal mengingatkan perawat  untuk kesalahan yang kecil  dan baru pertama kali dilakukan. Sebagai suatu  tindakan  koreksi,  biasanya  teguran   dilakukan   secara pribadi  dengan  cara  yang  bersahabat dengan tetap memperhatikan situasi dan kondisi lingkungan. Bantu bawahan untuk  membuat keputusan agar tidak mengulangi  kesalahannya. Buat catatan  khusus bahwa perawat telah melakukan konsultasi, catat waktu, tempat, dan   permasalahannya,  serta kesimpulan konsultasi.   Dokumen  dimasukkan  kedalam  file pribadi perawat.

Teguran  Secara  Tertulis

Teguran secara  tertulis  dilakukan  apabila  pelanggaran  diulangi kembali, tidak menunjukan  perbaikan  atau pelanggarannya cukup serius. Dalam  teguran secara tertulis, harus dicantumkan   nama pegawai,  nama pimpinan,  permasalahannya,  rencana perbaikan, dan  batas waktu perbaikan  serta  konsekwensi nya  apabila  pelanggaran  diulangi. Bawahan harus membaca dan memahami  sanksi yang diberikan dan disepakati bersama.  Dokumen  dimasukan  ke dalam  file pribadi  pegawai dan tembusannya diberikan kepada yang bersangkutan.  Sanksi biasanya disesuaikan dengan  kebijakan  institusi atau organisasi  setempat.

Keputusan  Terakhir/Skors

Keputusan  terakhir  atau  terminasi  dilakukan  karena pimpinan  melihat  bahwa kesalahan yang dilakukan  oleh  bawahan  sudah sangat  serius dan selama   batas waktu  perbaikan   perilaku bawahan  tidak memperlihatkan perubahan. Keputusan  terakhir  biasanya  dilakukan  dengan melibatkan  pimpinan    organisasi/Departemen. Keputusan  terakhir /skors  dapat dilakukan dengan berbagai cara  tergantung  pada tingkat kesalahannya maupun  kebijakan  dari  institusi / organisasi.  Antara lain  adalah  : Penurunan pangkat,  mutasi,  penundaan kenaikan pangkat / berkala,  penurunan insentif, tidak  diperkenankan  bekerja untuk jangka waktu pendek , jangka waktu panjang, atau akhirnya  diberhentikan / dikeluarkan.

 

IMPLEMENTASI  PROSEDUR  disiplin

Persiapan
§  Tangung jawab  yang  dilanggar  sebagai  bukti..
Objektif
§  Pelanggaran  yang dilakukan   harus  diteliti  dengan  cermat , dengan  bukti  yang nyata,  sebelum tindakan disipliner yang dilakukan.
§  Tindakan indisipliner  harus dilakukan  dengan adil.
§  Seleksi  yang adil tidak pilih kasih.
Kerahasiaan
§  Catatan   harus dijaga kerahasiaannya.
§  Wawancara   dilakukan  dengan  rileks  diruangan  tertutup  dan tenang.
§  Hormati  hak individu, beri kesempatan  untuk mengemukakan pendapat.
§  Diskusikan  masalahnya  bukan pribadinya.

Modifikasi Perilaku
Dapatkah  perilaku  bawahan  dirubah  oleh perubahan  perilaku  pimpinan  ?
Apakah  perilaku pimpinan   dapat  digunakan  sebagai  contoh  yang baik dan layak ditiru  oleh bawahannya ?
Ada  beberapa cara  yang  dapat digunakan  pimpinan  untuk  menstimulasi  bawahan agar  dapat merubah  perilaku  yang kurang baik  kearah yang  lebih baik sehingga peningkatan kinerja  sesuai standar dapat  dicapai:
Penguatan  yang positif
Penguatan  positif akan  meningkatkan  kemungkinan  individu untuk mengulangi  kembali  tindakan  yang diharapkan. Hal ini dapat dilakukan  dengan  segera  memberikan  pujian terhadap  hal  positif yang  dilakukan  bawahan .
Contoh  :
              “ Anda telah mengumpulkan  informasi  yang berharga selama  anda 
                 mewawancarai  Tn. Saroja  “
              “ Saya  sangat  menghargai  perawat  yang  menghadiri  pertemuan  ini “             
   
Hal  lain  yang  dapat  digunakan untuk menstimulasi  bawahan adalah dengan memberikan umpan balik, seperti : perhatian,  hadiah, tugas khusus,  naik jabatan, pujian, senyuman dan lain-lain.  Pengakuan  adalah  salah satu penguatan  yang  mudah  dilakukan  disamping  murah. Oleh karena itu  seorang pemimpin  harus mengetahui  dan memahami bentuk dorongan  seperti apa  yang perlu diberikan  pada setiap bawahan  dalam berbagai situasi.    

KESIMPULAN          

Disiplin  kerja  sangat penting  digunakan  sebagai arahan untuk  membentuk dan melatih  seseorang  melakukan sesuatu menjadi baik, dan merupakan proses  untuk menumbuhkan  perasaan seseorang  dalam mempertahankan  dan meningkatkan  tujuan  organisasi  secara objektif melalui  kepatuhannya  manjalankan peraturan  organisasi.
Koreksi dan pencegahan terhadap melemahnya peraturan  harus segera diatasi dan dilakukan  oleh  semua komponen  yang terlibat  dalam organisasi.  Karena  melemahnya  disiplin kerja dalam organisasi  akan secara langsung  mempengaruhi moral pegawai maupun terhadap pelayanan yang diberikan.
Sanksi indisipliner  dilakukan untuk mengarahkan  dan memperbaiki perilaku pegawai dan bukan untuk menyakiti,  oleh karena itu harus dilakukan  secara adil dan bijaksana. 

EVALUASI
1.      Apakah  pengertian Disiplin ?
2.      Apa tujuan Disiplin bagi saudara ?
3.      Sebutkan prinsip-prinsip dalam menetapkan tindakan Indisipliner ?
4.      Sebutkan tahapan-tahapan tindakan Indisipliner ?

5.      Sebutkan contoh tindakan Modifikasi Perilaku ?